Kita sering mendengar istilah pitch control dalam dunia musik atau dunia vokal seperti menyanyi, berbicara dan berpidato. Istilah ini diadaptasi atau dianalogikan dengan suatu alat yang namanya Pitch Controller pada alat audio canggih seeprti CD Player, Cassette Deck, Tapa Deck dan Turn Table. Pitch Controller itu mengatur kecepatan putar dari CD, Tape dan Cassette sehinga akan didapat frekwensi yang variable ..rendah atau tinggi. Nah, prinsip ini diadaptasikan ke tinggi rendahnya suara..pitch pada vokal manusia !
Kita batasi saja pembicaraan kita ke dunia tarik suara alias menyanyi. Dalam ajang Kontes seperti AFI, Indonesian Idol dan sejenisnya…para Komemntator sering sekali mengatakan bahwa peserta kurang bisa melakukan “pitch control” suaranya. yang dimaksud..sang peserta salh memulai setting tingginya suara dalam awal menyanyikan lagu…sehingga terjebak pada waktu nada2 rendah atau biasanya tekor pada waktu nada2 tinggi. Akibatnya fatal…menyanyi dengan menjerit2 dan urat leher keluar ! Tidak santailah.
Penyanyi yang profesional akan menguasai semua nada dalam spektrum oktaf suaranya…sehingga pada nada apapun terlihat santai tidak ngotot dan full control…suara akankeluar bulat dan penuh dan tidak fales ! Suara fales itu terjadi kalau kita kurang nafas…atau nada tak sampai atau power suara habis ! ini terjadi karena mismanagemnt dari “pitch control” tadi.
Sebuah lagu pada umumnya mempunyai spektrum 3 oktaf, rendah, sedang dan tinggi.
C = do.
C D E F G A B C D E F G A B C D E F G A B C
do re mi fa sol la si do re mi fa sol la si do re mi fa sol la si do
oktaf-1 oktaf-2 oktaf-3
Pada umumnya sebuah lagu terdiri dalam spektrum 3 oktaf (lagu 2 oktaf dan 4 oktaf jarang sekali). Lagu yang “normal” biasanya dimulai pada oktaf-2 , waktu bridge ada yang turun ke oktaf-1 dan pada overtone (refrain) naik ke oktaf-3. Sang penyanyi sendiri harus mengetahui dengan pasti berapa oktaf suaranya bisa nyampai, 3 oktaf atau 4 oktaf (maaf kalau hanya 2 oktaf sudah lah jangan jadi penyanyi). kemudian sang penyanyi harus mempelajari spektrum oktaf lagu yang akan dinyanyikan, apakah 3 oktaf atau 4 oktaf.
Yang paling krusial adalah mensetting “pitch” awal lagu, di oktaf mana pada diri sang Penyanyi lagu itu dimulai. Misalnya lagu dimulai di oktaf-2 oleh Penciptanya. maka sang Penyanyi harus mengadaptasi oktaf lagu itu “enaknya” pada oktaf mana di sang penyanyi. Misalkan sang penyanyi mempunyai kemampuan sampai 4 oktaf, lagu 3 oktaf, jadi sang penyanyi bisa awal menyanyi pada oktaf-3 dirinya dengan mudah atau mulai nyanyi pada oktaf-2 dirinya. pemilihan pada oktaf-3 risikonya pada overtone lagu sedangkan kalau memilih oktaf-2 penynyi maka risiko pada waktu menyenyikan oktaf-1 lgu…nada rendah. Inilah sebenarnya “permainan’ pitch control.
Kita sering mendengar dan melihat Penyanyi menjerit2 pada oktaf tinggi dan fales. Ini karena Penyanyi maksa di oktaf yang terlalu mepet dengan kemampuan dia dan bias tekor waktu overtone dengan urat leher keluar. para Penyanyi profesional akan sangat tepat mengawali lagi dengan “pitch sang penyanyi” yang tepat…sehingga berapapun oktaf lagu..maka dia akan tetap menguasai nada dengan tepat tidak fales malah bisa improvisasi…tidak ada adegan jerit menjerit atau tekor dan urat leher keluar….! kalu Penyanyi tekor…maka meskipun berusaha dengan mengimbangi dengan falseto…maka cenderung falsetonya juga akan fales….karena falseto intinya mengurangi power suara (bukan tinggi rendahnya frekwensi = nada) dengan “switch” ke suara kepala !
Contoh beberap lagu yang kalau pitsch awalnya slah bisa ribet di overtone atau rally2 overtone;
“Love Hurts”nya Nazareth, “Dealova” nya, Once, “Tanpa Kekasihku” nya Agnes Monica, “The Greatest Love of Al” nya, Whitney Houston, “What’s friends are for” nya, Dionne Warwick, dll



